Saturday, 26 July 2008

MLM : Not Just Business. It’s My Life’s University

By: Sukrin

“Bisnis MLM ..?”

“Maaf, saya harus selesaikan kuliah dulu”

Andai saja kuping bisa penuh dengan kata-kata, mungkin kuping saya sudah tumpah ruah dengar kalimat ini. Ya… bukan saja kalimat yang diucapkan teman-teman saya tetapi itu juga kalimat yang dulu saya yakini. Layaknya seorang cupu yang melangkahkah kaki ke dunia kampus, yang ada dalam benak saya pokoknya kuliah, segera lulus, berjuang ikut tes CPNS, harap-harap bisa jadi PNS biar mempunyai keamanan pekerjaan sampai tua.

Soal harus kuliah jurusan apa dan ingin jadi apa nantinya, itu sih gak kepikir. Yang penting ngalir aja. Kebetulan saya ikut PMJK dan diterima di Fakultas Peternakan Universitas Mataram yang bukan pilihan utama saya, tapi karena saya malas ikut SPMB dan memang nggak punya cita-cita yang jelas akhirnya saya memutuskan masuk disitu. Gak ribet..!!

Tapi meski gak tune in dengan jurusan peternakan, gue tetep rajin kuliah lho. Tapi dua semester awal aja, he.. he..he.... Seterusnya, saya mulai kena syndrome Nasakom, alias nasib satu koma .. he..he...

Sebagai mahasiswa, biasa lah mengandalkan kiriman ortu. Tapi namanya keluarga ’wong ndeso’ maklum aja kalau cuma buat mie instan. Syukur2x pake telur. Dua tahun kuliah kiriman masih lancar, tahun ketiga mulai seret. Saya jadi mikir mo cari kerja.

Eeeh... datang tak diundang pulang tak diantar, datang teman kakak saya ngajakin MLM. Ya iyalah, kalo nggak MLM mana ada orang ngajak-ngajakin buat sukses. Awalnya sih rada-rada negatif juga, untungnya saya lagi butuh, jadi mau juga dengerin.

Meski pakai debat-debat dikit, lama-lama saya lihat asyik juga, apalagi banyak bukti orang-orang sukses di bisnis ini dari berbagai macam latar belakang termasuk mahasiswa. Gerah juga rasanya lihat mahasiswa sudah punya luxury car dan penghasilan puluhan juta.

Pikiran saya jadi melayang ke kampus. Biasanya mahasiswa dan dosen-dosen kalau datang ke kampus, dari pintu gerbang langsung belok kiri, ke tempat parkir motor. Sementara dosen senior dan pejabat kampus yang sudah bermobil biasanya belok kanan, ke tempat parkir mobil tentunya. Saya bayangkan, bagaimana rasanya jika saya jadi mahasiswa pertama yang datang ke kampus, begitu melewati gerbang langsung belok kanan. Pasti Luar Biasa Sekali..!!

Saya pun akhirnya memutuskan untuk serius menjalankan dan sukses di bisnis ini.

Awalnya sih just do it aja. Pokoknya duit gitu loh. Ternyata saya Salah Besar. Saya sangat bersyukur bisa melihat dan menangkap peluang bisnis ini karena lewat bisnis ini saya mendapatkan banyak perubahan. Kalau soal uang sih sudah jelas. Jujur saja, dulu saya jarang sekali makan pakai piring. Kalau nggak beralas daun, ya beralas kertas mika.

Sekarang saya sudah bisa makan dengan piring setiap hari. Piringnya pun bisa macam-macam. Mau ukuran sedang, besar, yang cekung yang datar, saya ok ok aja. Jujur lagi, dulu setiap baca menu, saya nggak pernah lihat sebelah kiri. Saya pilih yang sebelah kanan, yang angkanya paling kecil baru berani pesan. Sekarang saya sudah lupa, kapan terakhir melihat baris menu sebelah kanan.

Tetapi yang paling saya syukuri ternyata bukan uang. Tetapi pertumbuhan pribadi yang saya rasakan luar biasa.

Menurut saya pribadi bisnis ini sangat LUAR BIASA, kenapa? Karena bisnis ini mempunyai banyak keistimewaan dibanding bisnis / pekerjaan yang lain, antara lain :

1. Modal

Banyak sekali orang yang takut memulai bisnis karena alasan modal, karena kebanyakan bisnis membutuhkan modal besar. Dibisnis konvensional kalau modal besar hasil besar dan resiko nya juga besar. Namun berbeda dengan konsep bisnis ini, dimana untuk memulai bisnis ini hanya dengan modal yang relatif kecil, sekitar + 100 ribu, dan untuk bisnis MLM yang saya jalankan sekarang hanya 85 ribu. Memang sih, modalnya bukan itu saja, namun dengan uang segitu kita sudah bisa memulai. Dan potensi penghasilannya bisa melampaui bisnis yang modal besar bahkan unlimited. Karena modal nya relatif kecil maka otomatis resiko juga kecil. Dan yang luar biasa juga dibisnis ini kita tidak membutuhkan modal untuk membuka cabang diluar kota bahkan sampai luar negeri, sangat berbeda dengan bisnis konvensional yang selalu membutuhkan modal yan cukup besar untuk membuka cabang.

2. Mudah/Tidak Perlu Keahlian

Dibisnis MLM yang saya jalankan sekarang mempunyai support system yang membantu para distributor untuk bisa menjalankan dan mengembangkan bisnis ini. Support system menyediakan alat bantu yang sangat lengkap sekali dengan tujuan agar semua distributor tahu cara menjalankan dan mengembangkan bisnis ini. Dengan support system, semua orang yang bergabung dalam bisnis ini, apapun latar belakangnya semua bisa menjalankan bisnis ini dan mempunya potensi untuk sukses dibisnis ini. Selain itu juga kita mempunyai mentor yang selalu membimbing dan memotivasi kita. Jadi kita tidak bekerja sendirian, kita akan dibantu oleh banyak orang yang berada digaris sponsorisasi kita.

Kalau kita ingin melamar pekerjaan disebuah perusahaan pasti banyak sekali persyaratannya, antara lain pendidikan terakhir min S1, punya keahlian tertentu dan punya pengalaman kerja. Artinya tidak semua orang bisa diterima menjadi pegawai / karyawan, namun dibisnis MLM semua orang bisa bergabung, tidak melihat usia, keahlian atau latar belakang, dan mempunyai potensi sukses yang sama.

Berbeda dengan bisnis konvensional yang dimana untuk mengembangkan bisnis tersebut kita dituntut untuk mempunyai modal yang besar keahlian yang spesifik. Jadi hanya sedikit orang yang bisa menjalankannya.

3. Waktu & Tempat Fleksibel

Seorang pegawai/karyawan bekerja dibatasi oleh ruang dan waktu. Tempat dan waktu kerja sudah diatur, mereka tidak bisa memilih untuk kerja ditempat yang mereka inginkan atau diwaktu yang mereka kehendaki. Namun dibisnis MLM, kita bisa jalankan diwaktu luang tanpa harus mengganggu waktu produktif kita. Kita bisa menjalankan bisnis ini dimanapun dan kapanpun tanpa terikat ruang dan waktu. Itulah alasan kenapa orang – orang yang sudah punya pekerjaan tetap sekalipun juga menjalankan bisnis ini.

4. Mulia

Seorang pegawai / karyawan mendapatkan gaji setiap bulan hanya untuk dirinya sendiri. Mereka juga tidak bisa langsung mengajak saudara atau temannya untuk menjadi pegawai / karyawan sama seperti mereka. Namun dibisnis MLM seorang yang yang sudah mempunyai organisasi bisnis yang cukup besar, mereka menerima komisi setiap bulannya bersamaan dengan puluhan, ratusan, ribuan sampai jutaan anggota jaringannya. Artinya dengan menjalankan bisnis MLM kita bisa membantu orang-orang mendapatkan penghasilan tambahan, yang dimana penghasilan tambahan itu bisa melebih penghasilan pokok mereka, dan itu sudah banyak sekali buktinya. Orang – orang yang dulunya menjalankan bisnis ini hanya untuk mencari penghasilan tambahan, namun ternyata penghasilan dari bisnis ini bisa mencapai puluhan kali bahkan ratusan kali dari penghasilan pokok mereka.

Itulah beberapa alasan kenapa bisnis MLM sangat luar biasa istimewa, masih banyak lagi keistimewaan bisnis MLM yang lain.

Dari bisnis MLM yang saya jalankan sekarang, saya tidak hanya mendapatkan manfaat keuangan / materi semata, namun banyak hal diluar itu yang saya dapatkan. Saya banyak sekali dapat pembelajaran yang sangat berguna dalam kehidupan saya. Pembelajaran yang saya dapatkan dibisnis MLM belum pernah saya dapatkan sebelumnya, baik dibangku sekolah ataupun bangku kuliah.

Beberapa pembelajaran bermanfaat yang saya dapatkan dibisnis MLM :

1. Impian dan Sikap Positif

Pada saat saya sekolah sampai kuliah saya belum pernah diajarkan untuk memiliki impian dan sikap yang positif. Setelah saya menekuni bisnis MLM baru tahu bahwa 95% Sukses itu ditentukan oleh Impian dan Sikap positif. Di MLM saya diajarkan bahwa yang membedakan orang sukses dan orang gagal adalah Impian dan Sikap nya.

Orang sukses mempunyai impian yang besar dan sikap positif,. Orang sukses selalu bertindak untuk mencapai impiannya walaupun mereka melewati proses yang tidak mudah, harus menerima ejekan atau hinaan dari banyak orang, namun mereka terus berjuang, selalu positif dengan keadaan yang terjadi, bangkit dari setiap kali jatuh dan akhirnya mereka bisa mewujudkan impiannya. sedangkan orang gagal mempunyai impian yang kecil dan sikap negatif. Mereka takut memiliki impian yang besar dan mempunyai mental cepat menyerah, mereka tidak tahan dengan proses sehingga mereka menjadi orang gagal.

Impian adalah sebuah pikiran, berpikir besar atau berpikir kecil sama saja. Kalau kita bisa bermimpi besar kenapa harus bermimpi kecil, lagipula bermimpi khan gratis. Impian menentukan apa yang akan kita dapatkan dan sikap mnentukan apakah kita benar-benar mendapatkannya. Jadi kalau kita menginginkan sesuatu kita harus memikirkannya terlebih dahulu, karena bagaimana bisa mendapatkannya kalau berpikir saja belum. Dari bisnis MLM lah saya mulai berani untuk mempunyai impian yang besar, walaupun ketika saya mengutarakan impian saya kepada keluarga atau teman-teman saya mereka banyak menertawakan saya selalu positif, saya tahu memang itu proses untuk menjadi orang besar. Karena faktanya banyak tokoh besar dunia dulunya ide mereka ditertawakan banyak orang namun mereka tetap teguh dengan impian nya dan mereka menjadi orang yang sangat berjasa pada dunia.

2. Paradigma Sukses

Di MLM saya diajarkan soal paradigma, ternyata di dunia ini ada dua paradigma yaitu paradigma umum dan paradigma sukses. 95% orang di Dunia menjalankan paradigma umum, dimana pada paradigma umum ini untuk mewujudkan impian – impian kita, awalnya kita harus bekerja kemudian dari pekerjaan kita, kita mendapatkan penghasilan, dan penghasilan ini dipakai untuk mencukupi kebutuhan dan impian-impian kita. Sedangkan diparadigma sukses untuk mewujudkan impian-impian kita sama awalnya bekerja dulu, namun bukan untuk langsung mendapatkan penghasilan tapi bekerja untuk membangun sbuah aset, dari aset ini memberikan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan dan impian-impian kita. Artinya perbedaan paradigma umum dengan paradigma sukses hanya 1 kata yaitu ASET. Jadi pada intinya jika kita ingin sukses, ingin bahagia, ingin punya banyak waktu dan bisa menikmati sukses kita, kita harus membangun sebuah asset, karena dengan membangun asset kita akan mendapatkan kebebasan financial, kebebasan waktu dan kebebasan pikiran.

Dari sini saya mulai sadar bahwa kalau saya ingin sukses artinya saya harus membangun sebuah Aset, dan bisnis MLM adalah salah satu system bisnis yang membangun aset dengan modal relatif kecil, tidak perlu keahlian khusus karena ada system. Jadi konsep bisnis ini sangat membantu sekali orang – orang biasa bisa mempunyai kehidupan yang luar biasa.

Dulu saya berpikir bahwa banyak uang itu sukses, namun ternyata saya salah. Setelah di MLM saya baru tahu bahwa punya uang banyak saja belum bisa dikatakan sukses, karena yang namanya sukses adalah ketika kita punya banyak uang dan juga punya banyak waktu untuk menikmatinya. Dan sukses sejati adalah ketika kita bisa membuat orang lain juga sukses. Dan saya menyimpulkan bahwa hanya di MLM lah orang bisa mendapatkan sukses sejati, karena di MLM untuk sukses kita harus membuat orang lain sukses dulu. Sangat berbeda dengan seorang pegawai dimana untuk naik jabatan mereka harus injak teman dan jilat atasan.

3. Pengembangan Diri

Dari sekolah sampai kuliah saya kurang hoby baca buku, saya jarang sekali beli buku paket yang disuruh oleh guru. Waktu kuliah pun saya hanya 2 kali masuk perpustakaan, itupun karena ajakan teman bukan inisiatif sendiri. Setelah di MLM itu semua berubah, saya menjadi sangat rajin baca buku dan jadi sering ke toko buku. Karena di MLM salah satu cara untuk sukses adalah dengan membaca buku, jadi untuk sukses saya siap melakukan hal-hal yang tidak saya sukai awalnya namun sekarang menjadi hoby. Dan buku-buku yang saya baca adalah buku-buku positif tentang pengembangan diri dan kiat-kiat sukses.

Dari SD sampai kuliah saya tergolong pemalu, takut bicara depan orang banyak. Namun itu semua berakhir setelah saya menekuni bisnis MLM. Karena pekerjaan dibisnis MLM adalah presentasi atau bercerita, kita wajib presentasikan produk dan system bisnis kita ke prospek, dan yang mendengarkan presentasi kita jumlahnya bisa puluhan, ratusan bahkan ribuan. jadi mau tidak mau, suka tidak suka kita harus bicara depan orang banyak. Dari awalnya berbicara depan orang banyak adalah sebuah keharusan, lama – lama menjadi kebiasaan yang sering dilakukan akhirnya menjadi berani. Ini adalah sesuatu yang tidak ternilai buat saya, tidak bisa dinilai dengan uang, karena tidak semua orang punya keberanian untuk bicara depan publik.

Saya sangat bersyukur dapat melihat dan menjalankan bisnis MLM karena dari sinilah saya mulai berani untuk berbicara depan publik. Yang dulunya takut berbicara sekarang diundang jadi pembicara. MLM dahsyat banget…

Saya juga dulunya cepat marah dan tersinggung. Setelah serius menjalankan bisnis MLM saya jadi lebih sabar. Karena ketika menjalankan bisnis MLM ada saja yang membuat kita kecewa dan sakit hati. Biasa nya kekecewaan itu muncul karena prospek menolak, dan sakit hati karena di ejek, dihina oleh teman bahkan keluarga dekat kita. Namun saya sekarang mulai lebih enjoy menghadapi itu semua karena di MLM saya diajarkan bahwa itu semua adalah proses untuk sukses. Orang yang lebih dulu sukses juga merasakan seperti apa yang saya rasakan.

Setelah di MLM juga saya jadi memiliki kepedulian yang sangat tinggi kepada orang lain, dulunya hanya mementingkan diri sendiri, namun sekarang saya lebih sering memikirkan bagaimana supaya mitra kerja saya semuanya bisa menjadi orang sukses, menjadi pahlawan buat keluarganya dan menjadi insan yang berguna buat orang lain bangsa dan Negara.

Itulah beberapa manfaat yang saya dapatkan di bisnis MLM. Saya merasa bahwa MLM adalah kampus kehidupan saya. Saya jadi banyak mengerti tentang kehidupan karena MLM. Saya sangat bersyukur sekali kepada Allah SWT yang mempertemukan saya dengan bisnis ini lewat hamba-hambanya yang berhati mulia.

Terima kasih yang setulus-tulusnya kepada dua orang hamba Allah yang sangat berjasa membantu saya membangun bisnis ini yaitu kakak saya tercinta sekaligus sponsor saya Bpk. Safriatna Ach dan seluruh upline leader yang sekaligus guru hidup saya. So, saya berharap rekan-rekan mahasiswa bisa melihat peluang ini dan berani bilang :

“Bisnis MLM ?” Of Course, that’s my university too… MLM : Not Just Business. It’s my life university

I L O V E Y O U A L L

take from(begreatvision.com)
Read More..

Tuesday, 22 July 2008

7 cara mendapat motivasi diri...!

By:Admin(GGS)
Berikut tujuh cara untuk mendapatkan motivasi setiap hari untuk mencapai sukses:

1. Bicarakan Rencana Anda - Bicaralah pada pasangan atau keluarga Anda tentang rencana Anda, atau tuliskan dalam selembar kertas apa yang akan Anda lakukan lalu tempelkan di kulkas,buku harian atau buat sebuah buku Impian.
2. Ciptakan Hasrat - Lihat imbalan dari usaha Anda secara jelas. Cara ini memberikan banyak motivasi untuk membuat rencana Anda cepat terwujud. Bayangkan rumah impian Anda setiap hari, dan ini akan memberikan Anda dorongan untuk menjadikannya nyata.
3. Ciptakan Rasa Sakit - Gambaran kekasih Anda keluar dengan orang lain, saat Anda menyaksikan itu dengan diam-diam, hal itu mungkin membuat Anda termotivasi membicarakan hal-hal yang Anda hindari dengan pasangan Anda.Dengan artian anda harus menemukan hal yang sangat penting dalam hidup anda dan anda harus mencapainya.
4. Miliki Sebuah Ketertarikan yang Nyata - Jika tak ada ketertarikan sama sekali Anda mungkin perlu melakukan sesuatu, untuk itu buat sebuah tujuan besar dalam pikiran Anda.
5. Ambil Sebuah Langkah Kecil - Lakukan pengumpulan untuk satu tas besar daun-daun di halaman. Dan denagn segera Anda akan membersihkan halaman. Setiap sebuah langkah kecil yang Anda ambil untuk mencapi tujuan akan memberikan motivasi pada Anda setiap hari.
6. Miliki Energi - Kafein akan memberikan rasa sehat untuk sesaat, tapi dalam satu atau lain cara, Anda membutuhkan energi lebih sebagai motivasi untuk setiap hari, misalnya dengan olah raga atau tidur cukup.
7. Ciptakan Keseimbangan Mental - Sangat sulit untuk menemukan motivasi jika Anda dalam keadaan tertekan. Hilangkan beberapa perasaan negatif Anda, atau pada akhirnya pilih kerjakan pekerjaan penting saat Anda dalam mood yang bagus.

salam sukses.
Read More..

Monday, 21 July 2008

KEBANYAKAN ORANG TIDAK SUKA MENJADI KAYA

Sudah ratusan kali dari ratusan pertemuan yang saya hadiri, saya mendengar pertanyaan,”Anda ingin sukses? Anda ingin kaya?”, dari presenter, impact parade bintang, training distributor baru dsb. Pertanyaan klasik jawabannya juga klasik. Pasti disambut dengan koor ”Ingiiiiin....!!” Kadang-kadang pertanyaan itu dilanjutkan lebih menukik,”Anda yakin sukses?”. Jawaban koor masih terdengar, ”Yakiiin...!! , tapi kali ini ada beberapa suara yang hilang. Mungkin tidak yakin atau kurang antusias. Kalau pertanyaan ini diajukan lebih dalam lagi,”Apakah Anda berani membayar harganya?”, jawaban setengah koor dengan nada yang lebih rendah pun menyambut,’ Beraniiii...!!”.

Kontradiksi biasanya terjadi disini, ada yang berteriak lantang ada pula yang sayup-sayup nyaris tak terdengar. Sayang tidak pernah ada pertanyaan yang lebih dalam dari itu. Tetapi dari tiga pertanyaan dengan derajat konsekuensi yang semain berat tersebut kita bisa melihat, semakin berat tantangan semakin teruji apakah seseorang benar-benar ingin dan yakin? Saya yakin, jika ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam, pasti yang berani menjawab makin sedikit bahkan jika terus digali lebih dalam mungkin tidak ada yang berani menjawab.

Karena ingin menggali lebih dalam apakah seseorang memiliki keyakinan, saya mencoba bertanya ke leader-leader di beberapa home sharing. Saya memulai dengan pertanyaan sama,”Apakah Anda yakin sukses dan kaya?”. Anda pasti tahu jawabannya khan. Saya lanjutkan dengan pertanyaan,”Siapa yang pernah melihat orang kaya berperilaku menyebalkan?”. Mudah ditebak, semuanya menjawab ”Pernah”. Saya lanjutkan lagi,” Siapa yang pernah saat melihat itu mengatakan ’mentang-mentang kaya sombong’?”. Ternyata jawabannya sama, semuanya pernah. Untuk merechek keyakinan mereka, saya ulangi pertanyaan dengan contoh lain,”Siapa yang pernah disambar mobil lux lalu mengatakan ’mentang-mentang kaya atau mentang-mentang punya mobil mewah sembarangan aja...”. Alhasil, jawabannya pun sama, semuanya pernah.

Di pertemuan yang lain, saya menanyakan kepada leader-leader,”Siapa yang Anda anggap memiliki keyakinan sukses paling besar disini?” Mereka lalu menunjuk seorang leader yang selalu tampir luar biasa di setiap pertemuan, antusias dan energik kapanpun juga, dan menunjukkan kerja keras yang fokus dan ngotot. Sayapun menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sama seperti diatas. Ternyata,..... sami mawon. Jawabannya nggak ada beda.

Sampai disini bisakah Anda melihat kejanggalannya? Sepertinya semua biasa-biasa saja. Yah, segala sesuatu nampak biasa-biasa saja jika kita tidak melakukan perbandingan–perbandingan sampai menemukan asosiasi yang tepat. Pertanyaan-pertanyaan tadi kebetulan baru sempat saya tanyakan kepada jaringan saya yang semuanya kelas menengah ke bawah. Andaikata saja pertanyaan yang sama saya ajukan kepada orang-orang The have, apakah jawabannya sama? Saya yakin tidak. Setidaknya saya pernah bersama orang-orang agak The have, yang mengomentari perilaku orang sekelasnya. Saat mereka disambar mobil sekelasnya misalnya sesama Innova, apa komentar mereka? Salah satunya seperti ini,”Pakai mobil sembarangan, memangnya dibeli pakai daun?”.

Anda lihat bedanya? Respon mereka beragam, tapi dapat dipastikan mereka tidak mengaitkan dengan kekayaan karena mereka satu kelas. Sebagai sesama satu kelas mereka tahu, tidak semuanya sombong dan pakai mobil sembarangan, minimal diri mereka sendiri. Tapi mereka juga bisa jadi berkomentar sama dengan orang miskin yang tidak memiliki mobil, jika Innova mereka disambar Phorsche seharga Rp. 1,5 M. Karena kalah kelas, mereka pun mengasosiasikan kekayaan dengan kesombongan. Mari kita berandai-andai lebih jauh. Jika pemilik mobil Ferrari sport seharga Rp 5 M, tiba-tiba disambar oleh Phorsche tadi, apakah pemilik Ferrari akan mengatakan,”Mentang-mentang orang kaya.....” ?” Tidak mungkin khan. Dalam pikiran bawah sadar secara reflek mereka berkata,”Saya yang lebih kaya saja tidak sembarangan pakai mobil”.

Ternyata nilai-nilai kekayaan berkorelasi positif dengan kelas sosial. Nilai kekayaan menjadi negatif hanya terjadi jika seseorang yang lebih miskin menilai yang lebih kaya. Kalau begitu manakah yang lebih tepat, apakah kekayaan yang bersifat negatif? Ataukah negatif terhadap kekayaan sebetulnya hanyalah perwujudan rasa iri bahkan dengki? Waktu saya SMA, ada istilah gaul STTM, apa itu? Sirik Tanda Tak Mampu. Rasanya STTM ini tepat untuk saat ini. Hati-hati, apakah Anda termasuk STTM?

Karena itu saya biasanya melanjutkan dengan pertanyaan,”Siapa yang pernah melihat orang miskin menyebalkan? Mana yang lebih banyak sombong, orang miskin atau orang kaya?”. Jelas orang miskin, lha wong orang kaya jumlahnya sedikit. Saya juga menambahkan pertanyaan,”Siapa yang pernah disambar motor ceketer yang mengeluarkan asap tebal?” Mungkin Anda sepakat, semuanya menjawab ”ya”. Satu pertanyaan lagi,”Lebih sering mana, disambar ceketer atau mobil lux?”

Artinya apa? Orang kaya sombong ada, orang miskin sombong ada. Orang kaya menyebalkan ada, orang miskin menyebalkan juga ada. Mobil mewah asal nyambar ada, motor ceketer main sambar juga ada. Kesimpulannya sombong, menyebalkan, main sambar dan bentuk-bentuk lainnya tidak memiliki korelasi dengan kekayaan atau kemiskinan. Orang sombong, ya dasar sombong aja. Jadi orang miskin sombong, jadi kaya juga sombong. Ada juga orang yang miskin baik dan setelah kaya tetap juga baik. Pertanyaannya, mengapa kita seringkali mengasosiasikan kekayaan dengan nilai-nilai yang tidak baik?

Sejak dilahirkan, kita secara sadar atau tidak, menginternalisasi nilai-nilai sosial di lingkungan kita. Celakanya, selalu ada nilai-nilai tidak benar tetapi menjadi dominan sehingga diyakini kebenarannya. Dan jika berhubungan dengan kekayaan, banyak sekali nilai-nilai kelas menengah kebawah yang negatif. Di kampung saya, beberapa orang kaya dihubungkan dengan tuyul atau pesugihan. Sebagian lagi diidentifikasi tidak ’gaul’ alias sombong. Tentu saja, orang kaya tersebut punya nilai lain yang sama benarnya, yaitu produktivitas. Kalau waktu yang ada bisa dimanfaatkan secara produktif, ngapain kumpul-kumpul yang tidak jelas pembicaraannya?

Sayangnya nilai-nilai tersebut di era modern justeru malah direproduksi secara masal melalui media masa. Lihatlah sinetron yang begitu banyak menyedot perhatian pemirsa, sangat banyak sinetron yang mengisahkan orang kaya menzalimi orang miskin, atau kisah-kisah orang kaya yang berhubungan dengan kekuatan mistik. Liputan-liputan tentang selebritis juga banyak mengekspose bagian-bagian hidup yang negatif seperti konflik rumah tangga, selingkuh, kekerasan, gugat-menggugat dsb. Demikian juga liputan tentang tokoh-tokoh negeri yang tak jauh beda. Korupsi, selingkuh, merampas hak rakyat dan sebagainya.
Liputan seperti ini tidak salah bahkan sebagian juga dibutuhkan, tetapi sayangnya tidak proporsional dengan sosialisasi nilai-nilai positif. Sedikit sekali tayangan TV yang menyorot profil sukses dan mengupas detail bagaimana perjuangan mereka menuju sukses. Alasannya simple, rating..!! Rating acara TV, menunjukkan nilai-nilai masyarakat yang dominan. Sebagai organisasi bisnis yang hanya peduli profit, TV lebih mementingkan memenuhi selera rendah masyarakat dibanding menjalankan fungsi edukatif. Jadilah lingkaran setan. Semakin TV melayani kebutuhan ’selera rendah’, semakin terjun ’selera rendah’ masyarakat, akibatnya semakin banyak TV memproduksi tayangan-tayangan tersebut. Begitu seterusnya.

Pengulangan yang terus berulang sampai dewasa, membuat nilai-nilai tersebut melekat demikian kuat di pikiran bawah sadar dan muncul sewaktu-waktu tanpa kita menyadarinya. Nah, lalu apa hubungannya dengan keyakinan untuk sukses dan kaya? Sekarang bayangkan, pikiran Anda adalah orang lain yang ada di depan Anda, lalu katakan kepadanya, ”Hai pikiran, tahukah kamu bahwa kekayaan itu penyebab banyak hal-hal buruk, kekayaan itu membuat orang sombong, kekayaan membuat toleransi rendah, kekayaan membuat sekat sosial lebih tebal.” Selama 20 tahun lebih katakan berulang-ulang kepadanya setiap hari. Kemudian suatu hari katakan kepadanya, ”Hai pikiran, saya ingin kaya, saya ingin sukses. Bantu saya untuk mengejar kekayaan itu. Saya akan menggunakannya untuk tujuan-tujuan mulia dalam hidup saya”.

Menurut Anda apa yang akan dilakukan pikiran? Terang aja pikiran jadi bingung. ”Dari dulu saya diberitahu bahwa kekayaan itu penyebab kejahatan kok mendadak sekarang diminta membantu kaya untuk melakukan hal-hal mulia? Ah, mungkin main-main ini, biarin aja”. Hal itulah yang terjadi di pikiran Anda dan juga saya. Hari ini begitu banyak leader memiliki keyakinan untuk sukses dan kaya. Dan jika mereka ditanya, apakah kaya itu penting? Pasti mereka menjawab sangat-sangat penting. Jika ditanyakan apakah kaya itu baik? Jawaban mereka juga pasti positif. Tetapi kenyataannya pikiran sadar dan pikiran bawah sadar mereka tidak kongruen. Dan jangan terkejut dan kecewa, menurut teori pikiran,
Jika pikiran sadar dan bawah sadar bertentangan maka
pikiran bawah sadarlah yang akan menang

Dengan kata lain, jika pikiran bawah sadar kita meyakini bahwa kaya itu jahat, pikiran kita akan bekerja membantu kita menjauhi kekayaan, alias tetap miskin..!!

Transformasi Nilai

Nilai-nilai terhadap kekayaan yang negatif ini tertanam begitu dalam dan kuat, kita tidak bisa membiarkannya hilang dengan sendirinya. Untuk menonaktifkan nilai-nilai ini, kita bisa melakukannya dengan berusaha menggali lebih banyak lagi nilai-nilai tersembunyi yang mengaitkan kekayaan dengan kejahatan. Untuk menyadari nilai-nilai ini tidaklah mudah dan bisa dilakukan seketika. Seringkali kita baru menyadarinya saat kita merespon peristiwa tertentu yang berhubungan dengan penilaian terhadap kekayaan. Karena itu, ada baiknya saat menyadari nilai-nilai tersebut muncul, kita harus segera meralat kata-kata dan menggantinya dengan kalimat positif. Langkah selanjutnya agar tidak terulang lagi kita mencatatnya dan segera mencatat keyakinan baru yang positif untuk menggantikannya.

Untuk ilustrasi, bisakah Anda mengganti kopi dalam cangkir dengan susu murni tanpa mengangkat cangkirnya? Misalkan Anda menuangkan susu murni satu cangkir, apa yang Anda lihat? Tepat, cangkir itu berisi kopi susu. Bagaimana kalau 5 gelas susu? Kali ini kopinya tinggal sedikit, tepatnya kita sebut susu kopi. Bagaimana kalau 1 galon susu kita tuangkan? Luar biasa, kali ini Anda sukses. Cangkir itu betul-betul berisi 100% susu murni segar. Hal yang sama juga terjadi dengan pikiran dan kesuksesan Anda. Jika pikiran Anda masih berisi kopi dan Anda baru menuangkan sedikit susu, anda hanya mengalami sedikit kemajuan dalam kekayaan. Jika keinginan Anda menggebu-gebu untuk sukses dan kaya tanpa Anda tambahkan susunya, Anda akan menghadapi begitu banyak hambatan-hambatan menjadi kaya. Karena itu tuangkan setiap hari susu kedalam pikiran Anda.

Untuk menguatkan daftar keyakinan yang baru tersebut, Anda bisa melakukan incantation dan reprogramming secara terus menerus. Incantation adalah mengucapkan ’mantra-mantra’ tertentu dengan emosi yang kuat sambil melakukan gerakan-gerakan misalnya sambil berlari. Sementara reprogramming adalah upaya yang dilakukan secara sistematis untuk menonaktifkan program lama yang tidak mendukung kesuksesan dan mengaktifkan program-program pikiran baru yang mendukung kesuksesan. Untuk memahami kedua hal penting tersebut sebaiknya Anda membaca buku Financial Revoluton (Tung Desem Waringin) dan Becoming a Money Magnet (Adi W Gunawan dan Ariesandi). Untuk membantu secara praktis, saya juga menyarankan Anda memiliki CD Hypnotherapy for Goal Setting, yang dirancang oleh pakar hipnosys terbaik di Indonesia, Romy Rafael atau CD Hypnosys di buku The Secret of Mindset (Adi Gunawan)

Sudah siapkah Anda menjadi kaya?

take from(begreatvision.com)
Read More..

Semua Bisa Sukses......!

Kebanyakan distributor baru mengajukan pertanyaan,”Apakah saya bisa sukses?”. Jawaban saya biasanya tegas,”TIDAK BISA”. Loh kok malah menjatuhkan semangat orang?.”Ya, bukan pertanyaan terucap itu yang penting dijawab. Arti sebenarnya dari pertanyaan itu adalah : saya tidak yakin saya bisa sukses. Ketakutan untuk sukses itulah yang harus dijawab. Ketakutan atau kekhawatiran akan melumpuhkan kecerdasan. Jika Anda terus bertanya,”Apakah saya bisa?” Pikiran Anda akan menemukan banyak sekali alasan bahwa Anda tidak bisa sukses.
Untuk menghilangkan ketakutan Anda, rubahlah kalimat itu menjadi : “Bagaimana caranya saya bisa sukses?”. Saat Anda mengucapkan kalimat ini, di pikiran bawah sadar Anda, kalimatnya berbunyi seperti ini : “Saya yakin bisa sukses di bisnis ini, tolong tunjukkan cara terbaik dan tercepat untuk ke puncak sukses”. Keyakinan akan membuat tubuh dan pikiran kita terangsang bekerja lebih cerdas untuk menemukan jalannya.
Sepele, tetapi tidak mudah melakukannya. Setelah kita mencoba melakukannya, biasanya juga tidak mudah membiasakannya menjadi keyakinan. Saya sendiri merasakannya. Saat pertama kali ‘klik’, saya begitu yakin akan sukses. Tetapi setelah menerima puluhan penolakan, pertanyaan saya berubah kembali,”Apakah saya bisa sukses?”. Untungnya saya membaca buku-buku positif yang membantu saya mencegah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih negatif. Untuk sementara saya berhasil.
Ketika berhasil naik dua peringkat dengan omzet yang memenuhi parameter, keyakinan saya memuncak. Sayang tidak bertahan lama. Dua bulan kemudian keraguan mulai menyelimuti keyakinan saya, omzet tidak juga bergerak naik. Empat bulan di peringkat yang sama saya mulai bertanya,”Apakah saya bisa sukses?” Sekali lagi untungnya, saya konsisten membaca buku positif dan mengikuti pertemuan besar yang membangkitkan kembali semangat saya. Walau begitu pikiran saya selalu menjerit jika saya ajak untuk berpikir positif. Pikiran sadar saya mengatakan,”Apa buktinya kamu akan sukses? Nyatanya omzet tidak kunjung naik”. Tidak mudah memenangkan ‘pertarungan’ dahsyat ini.
Betul kata pujangga,”Pertarungan terbesar adalah saat kita mampu mengalahkan diri sendiri”. Kata orang bijak juga yang menyelamatkan saya. “Masa depan Anda tidak ditentukan oleh latar belakang Anda. Tidak penting apa yang telah terjadi kepada Anda, terpenting adalah bagaimana mewujudkan masa depan Anda”. Saya ucapkan mantra ini berulang-ulang. Andaikata ada spidol permanen yang bisa menuliskannya di otak, saya akan membeli berapapun harganya dan menuliskannya besar-besar. Saya tidak ingin kehilangan kata-kata itu dalam kehidupan saya.
Di setiap pertemuan saya selalu berkaca, kalau orang yang baru bergabung hari ini bisa memiliki keyakinan untuk sukses, alasan apa yang bisa membenarkan saya tidak yakin? Mereka mulai dari segalanya NOL. Anggap saja hari ini saya baru bergabung dan mendapat ‘foor’ current achievement puluhan juta plus beberapa leader yang antusias. Artinya saya memulai bisnis ini dengan start yang jauh di depan. Let’s fly ... let’s fly ... show must go on..!!

Mengapa sulit mendapatkan keyakinan sukses?

Lingkungan kita sudah belajar puluhan bahkan ratusan tahun secara turun temurun dan menjadikan semua pengalaman tersebut menjadi acuan bagi kehidupan mereka. Secara sadar, mereka juga mensosialisasikannya kepada anak, cucu dan seluruh keturunan mereka termasuk kita. Orang-orang dengan lingkungan yang berbeda akan memiliki acuan-acuan yang berbeda. Coba bandingkan jika 3 remaja dari lingkungan berbeda yang baru lulus SMA, diberikan pertanyaan sama : “Satu tahun kedepan, bisakah Anda melakukan pekerjaan yang menghasilkan 5 juta per bulan?”. Pertanyaan ini dengan catatan tidak boleh memanfaatkan kekayaan atau meminta pekerjaan dari keluarga. Apa jawaban yang diberikan oleh remaja :
Anak kusir cidomo (delman) : ___________?___________
Anak bupati : ___________?___________
Anak konglomerat terkaya di Indonesia : ___________?___________

Mengapa jawaban mereka berbeda? Bukankah mereka sama-sama lulusan SMA dan diberi kesempatan waktu yang sama? Tentu saja karena mereka belajar acuan-acuan yang beda. Bagi anak kusir cidomo, 5 juta sulit untuk dibayangkan. Kalau dibayangkan saja sulit bagaimana mau mendapatkannya. Bagi anak konglomerat, 5 juta tidak cukup buat uang jajan. Saat ditanya angka 5 juta, di dalam pikirannya yang muncul adalah gambar 5 milyar. Meskipun belum memilikinya tapi dia sudah terbiasa melihat angka-angka itu dalam berbagai bentuk. Pertanyaannya adalah seperti apakah keluarga dan lingkungan yang mendidik kita?
Bukan hanya keyakinan soal jumlah uang, tetapi yang sangat penting adalah keyakinan menciptakan kehidupan baru. Orang-orang di garis kemiskinan sudah lama belajar, menjadi sukses adalah sebuah keajaiban yang datang dari luar diri mereka. Mereka telah belajar segala sesuatu itu sulit untuk dirubah. Permanen. Dengan kata lain, sudah ketentuan “Yang Diatas”. Sementara orang-orang di lingkungan sukses terbiasa melihat hal-hal baru diciptakan. Apakah itu lapangan golf, tempat hiburan, kondominium dsb. Mereka juga sering melihat orang-orang yang menciptakan sesuatu yang bahkan tidak ada sebelumnya. Karena itu mereka juga lebih mudah memiliki suatu keyakinan : apapun bisa diciptakan sepanjang kita mau dan yakin pasti bisa.
Orang yang sudah terbiasa di lingkungan sukses melihat, keyakinan untuk mewujudkan sesuatu tidak selalu memerlukan acuan masa lalu. Jika kebanyakan orang mengatakan sesuatu itu mustahil, mereka berani mengatakan mengapa tidak? Jika kebanyakan orang mengatakan belum ada buktinya. Mereka berani mengatakan, sayalah yang membuktikan.

Bisakah kita keluar dari toples keyakinan yang memenjara itu?

Keyakinan hanyalah sebuah penafsiran pikiran yang dianggap benar sehingga tidak bisa diganggu gugat lagi. Jika sebuah ide bisa dimasukkan ke pikiran Anda, sudah pasti ide itu juga dapat dikeluarkan. Anda berkuasa atas pikiran Anda sendiri untuk mengganti keyakinan yang tidak mendukung kesuksesan dengan keyakinan yang memberdayakan Anda. (Untuk lebih dalam, Anda bisa membaca buku Adi Gunawan dan Ariesandi berjudul Manage Your Mind for Success)
Sejak kelas 2 SMP sampai kelas 3 SMA saya bergaul dengan teman-teman yang baik tetapi tidak tepat untuk mendukung masa depan saya. Bersama teman-teman, kami memiliki nilai-nilai sendiri yang membanggakan. Tawuran di depan sekolah disaksikan cewek-cewek jelas sangat membanggakan. Membawa botol bir ke kelas dan membuat ketakutan cewek-cewek di kelas jelas menaikkan ‘kelas’. Saya terjebak dalam berbagai bentuk kenakalan remaja termasuk yang paling membahayakan jiwa saya adalah taruhan balap motor. Balapan dengan kaki terangkat diatas jok, melihat jalan di depan dengan kepala dibawah stang, lampu mati dan tidak memiliki kesempatan menginjak rem jika terjadi sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Huffhh... saya bisa menarik nafas panjang jika mengingatnya. Kok bisa saya seperti itu?
Satu-satunya sumber positif saat itu adalah orang tua. Sayangnya sebagai remaja, melawan orang tua adalah aktualisasi identitas untuk membuktikan bahwa kami sudah besar, kami sudah mandiri, tidak perlu lagi dukungan orang tua. Sampai suatu hari, saya menemukan buku lusuh tanpa sampul depan dan dengan sampul belakang warna hijau yang sudah terkoyak. Entah mengapa saya mau membaca buku itu. Semakin banyak halaman saya baca, mata saya semakin kuat menatap buku itu dan saya merasakan ada suatu kesejukan yang mengalir di tubuh saya. Baru saat itu saya merasakan ada cara berbeda untuk melihat dunia ini.
Gatot tiba-tiba saja bukan seorang remaja nakal. Secara fisik saya tetap sama, tetapi secara internal saya berubah citra diri menjadi figur-figur yang saya kagumi. Kalau biasanya membaca koran, hanya sekedar membaca saja, sejak mengenal buku itu saya membaca koran dengan cara berbeda. Saat membaca berita politik saya berpikir,”Andaikata saya jadi presiden apa yang akan saya lakukan?”. Jika saya membaca berita ekonomi, saya mempersepsikan diri menjadi menteri ekonomi. Saya berpikir,”Kalau saya jadi menteri ekonomi, saya harus berbuat apa?”.
Citra diri baru yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru itu terasa konyol sehingga saya sering merasa memiliki identitas kacau. Faktanya saya seorang anak SMA, bagaimana mungkin saya menjawab pertanyaan jika menjadi presiden atau menteri. Jelas ini pertanyaan yang bodoh sekali. Sampai kepala pecah pun tidak akan ada jawaban. Kadang-kadang saya ingin menghentikan citra diri saya yang baru tetapi tidak bisa karena berpikir dengan cara baru memberikan saya sedikit rasa nyaman yang tidak bisa saya dapatkan dari cara berpikir lama.
Saya bersyukur sekali, meskipun hanya mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Pertanyaan itulah yang membimbing ke arah mana saya menuju. Saat masuk kuliah saya langsung tertarik dengan mahasiswa yang hoby demo dan membicarakan masalah-masalah bangsa. Saya memiliki pergaulan baru yang memberikan jawaban pertanyaan-pertanyaan saya. Saya tidak pernah menyangka jika perjalanan saya kemudian berlanjut dengan pertemuan dengan aktivis-aktivis terkemuka di NTB yang memiliki ketajaman analisis. Pertanyaan-pertanyaan saya mulai terjawab setelah saya ajukan terus selama lebih dari 3 tahun.
Karena itulah di awal tulisan ini saya ‘menggugat’ pertanyaan yang tidak memberdayakan. Saya telah mengalami : pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan secara konsisten akan mendapatkan jawaban-jawabannya. Karena itu buatlah pertanyaan-pertanyaan kepada diri Anda yang membantu Anda untuk maju, bukan mengajukan pertanyaan yang jawabannya akan membuat Anda bergerak mundur.
Buku yang begitu luar biasa memberikan pijakan pertama bagi saya untuk meloncat itu berjudul : Berpikir dan Berjiwa Besar (DJ Schwarz). Bersyukurlah Anda begitu bergabung dengan bisnis ini, sponsor Anda merekomendasikan buku ini. Sponsor Anda ibarat mengulurkan tali saat Anda terjebak di lobang yang dalam. Jangan sia-siakan, tangkap talinya dan jika Anda belum memiliki, miliki sekarang juga.
Sebelum mengenal bisnis ini, saya dan teman-teman aktivis berani berpikir besar tentang hal-hal politik tetapi anehnya kami memiliki pikiran yang sangat kecil untuk menjadi kaya. Di mahasiswa kami sudah terbiasa membangun impian yang ‘mustahil’ dicapai, kami menjadikannya ‘tegangan kreatif’ untuk menarik potensi di diri kami untuk melakukan hal-hal yang kami anggap penting untuk perubahan sosial politik. Anda mungkin pernah mendengar kalimat “Revolusi Sekarang Juga...!!” Terlalu banyak orang mentertawakan kami dan begitu banyak ancaman rezim kami terima. Toh aktivis tidak bergeming, tetap fokus, antusias, ngotot dan konsisten.
Setelah mengenal bisnis ini saya menyadari ternyata kita bisa jadi lepas dari sebuah toples keyakinan tertentu tetapi bisa jadi masih terkungkung di toples keyakinan lain yang tidak memberdayakan. Saya baru saja belajar memecah toples keyakinan kemiskinan. Dan ketika saya mensosialisasikan keyakinan baru ini, saya mendapat tertawaan sebagian teman aktivis. Luar biasa kaya adalah sebuah konsep yang ‘menindas’, kemiskinan adalah romantisme yang harus dipelihara untuk membuktikan bahwa aktivis rela berkorban. Bahasa gampangnya seperti ini,”Demi rakyat dan bangsa tercinta. Demi petani, buruh dan kaum miskin kota. Kami rela tetap miskin selamanya untuk tetap di garis depan perjuangan”. Sebuah nilai-nilai yang juga saya pegang sebelumnya sebagaimana saya mengimani nilai-nilai agama.
Mengapa saya keluar dari toples keyakinan lama dan belajar keyakinan baru? Pertama, karena saya terus mempertanyakan apa dampak dari keyakinan lama saya? Saya mulai membayangkan,”Mungkinkah perjuangan dilakukan dengan perut kosong?. Mungkinkah memperjuangkan kesejahteraan sementara anak-anak tidak tercukupi kebutuhan pendidikannya?” Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Saya melihat orang-orang yang memegang keyakinan sama tetapi 10 tahun lebih dulu dari saya. Dengan merekalah saya bercermin masa depan saya 10 tahun yang akan datang. Karena melihat masa depan saya tidak begitu cerah, saya mulai mencari nilai-nilai keyakinan baru yang memberdayakan kehidupan keluarga dan tentu saja kehidupan sosial saya.
Kedua, karena saya terus bertanya sayapun mendapat jawabannya. Bisnis ini mengenalkan saya kepada begitu banyak buku yang merekonstruksi keyakinan-keyakinan saya. Berpikir dan Menjadi Kaya (Napoleon Hill), Berpikir dan Menjadi Sukses (DJ Schwarz), Awaken the Giant (Anthony Robbin), Rich Dad series (Robert K), Financial Revolution (Tung DW) dan banyak lagi buku-buku lainnya. Saya mulai belajar bahwa kaya adalah baik adanya. Kaya tidak mengikis idealisme kita. Kaya tidak akan menjauhkan kita dari jalan pengabdian. Kaya tidak mengaburkan iman dsb. Ada kalimat penting dari Wallace d Wattless yang ‘menusuk’ saya. Kalimat itu berbunyi begini,”Langkah pertama yang terbaik untuk mengurangi jumlah kemiskinan adalah memastikan ANDA bukan salah satu dari daftar orang miskin”.
Meskipun uang bukan segala-galanya, sayangnya ternyata segala-galanya termasuk tujuan-tujuan mulia hidup kita memerlukan uang. Saya makin menyadari bahwa, andaikata sekalipun SAYA TIDAK INGIN KAYA tetapi SAYA HARUS KAYA.
Karena saya berpikir harus kaya, saya mulai melupakan pertanyaan : apakah saya bisa kaya? Tanpa saya sadari saya berpindah fokus pada pertanyaan : Bagaimana caranya bisa kaya? Sebuah pertanyaan memberdayakan yang saya yakin akan menemukan jawabannya dalam bentuk yang nyata. Gusti Allah ora turu (Tuhan tidak tidur) kata orang jawa. Setiap kita bertanya DIA akan menurunkan jawaban. Saya percaya suatu hari akan mendapat jawaban itu.
Apa pelajaran dari cerita panjang kehidupan saya? Jika Anda ingin keluar dari toples keyakinan yang membelenggu, carilah model-model sukses dimana Anda ingin seperti mereka. Bergaullah dengan mereka jika ada disekeliling Anda. Apakah ada atau tidak Anda juga harus mencari model sukses yang jauh lebih besar. Itu bisa Anda dapatkan dari kaset atau buku-buku sukses yang bisa Anda dapatkan secara mudah di toko-toko buku terdekat. Saat Anda mendengar kaset atau membaca buku-buku sukses, pikiran Anda mulai mengikuti pola-pola berpikir orang-orang sukses. Kalau pola berpikir dan melakukan tindakan sama, Anda pun akan berlari pada arah yang sama meski pada jalan yang berbeda. Jalan yang Anda lewati satu tujuan dengan jalan yang mereka lewati. Jalan menuju sukses. Jika Anda menyempurnakan pola berpikir dan tindakannya, Anda pasti lebih cepat sukses daripada figur yang Anda pelajari. take from(begreatvision.com)
Read More..
Mencoba Lebih Baik daripada Diam,karena Mencoba mungkin SUKSES kalo Diam pasti Gagal...!